Rabu, 30 Mei 2012

APLIKASI TEKNOLOGI BMF (BUDI MIXED FARMING) PADA BEBERAPA VARIETAS KEDELAI

Kedelai merupakan tanaman multiguna, sehingga kedelai menjadi komoditas penting di Indonesia.     Produksi kedelai di Sulawesi Selatan pada tahun 2009 sebesar 41.279 ton dengan luas areal tanam sekiatr 45000 ha dengan tingkat produktivitas 1,6 ton per ha.
            Salah satu paket tekhnologi untuk meningkatkan kesuburan tanah guna memperoleh hasil yang optimal pada tanaman kedelai adalah tekhnologi BMF yang telah dikembangkan di jawa tengah dengan rata-rata produksi 3 ton per ha.
            Paket teknologi BMF menggunakan varietas grobogan yang berumur pendek dan mengemas precursor hormone sitokinin dalam bentuk pupuk organic BMF biolemi dan BMF Biofert.
            Berdasarkan hal tersebut maka penulis membuat penelitian yang menggunakan RPPT dengan petak utama :penggunaan teknologi BMF dengan perlakuan  (b0 = bio fert plus (6 L ha-) dan b1 (bio fert plus (6 L ha-)dan BMF Biolemi (6 L ha-)), anak petak adalah varietas 3 perlakuan (varietas grobogan, raja basa dan argopuro) dan anak-anak petak adalah penggunaan macam bahan organic (tanpa bahan organic padat, pupuk kandang sapi (5 ton ha-1) dan kompos jerami (5 ton ha-1)
            Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Desa Turucinnae Kecamatan Lamuru yang dilakukan oleh penulis maka diperoleh hasil bahwa ternyata varietas raja basa memberikan hasil yang terbaik pada tinggi tanaman 60 HST (62,710 cm), jumlah polong berisi (47, 15 buah), bobot biji per tanaman (9,41 g) dan berat bij per hektar (1,66 ton per ha) dan interaksi BMF biolemi dan varietas grobogan tanpa menggunakan bahan organic pada menghasilkan laju tumbuh relative tertinggi pada umur 60 – 75 HST (0,04787).





Tidak ada komentar:

Posting Komentar