Selasa, 05 Juni 2012

CARA PEMBUATAN PESTISIDA ORGANIK

BAHAN :

  • Buah Maja/Bila : 1 buah
  • Sereh
  • Lengkuas
  • Air 1 Liter
  • Bioaktivator (EM4, MOL,Mbio, Simba)
CARA PEMBUATAN
  • Ambil isi buah bila, sereh dicincang demikian juga lengkuas
  • Campurkan ketiga bahan tersebut dengan air 1 liter dan bioaktivator 1 tutup atau sekitar 5 ml
  • Simpan dalam ember yang berpenutup kemudian simpan sekitar 3 hari di tempat yang teduh
  • Kemudian saring dan yang digunakan adalah hasil saringan
CARA APLIKASI
  • Aplikasi pada saat penyemprotan yaitu 1 gelas aqua dalam 1 tangki (10 liter) air

Jumat, 01 Juni 2012

CARA PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR MAJEMUK

Alat dan Bahan

  • Drum/jerigen
  • Urine ternak/limbah cucian ikan/ cucian daging dll
  • Kotoran sapi, kambing, unggas 
  • Tanaman legime (Lamtoro, rumput wedusan dll) dan tanaman pakis-pakisan
  • Tetes tebu (molases)/gula pasir atau gula jawa
  • Buah-buahan busuk : pepaya, pisang, nangka, semangka dll (buah yang manis)
  • Bakteri pengurai (Bioaktivator) EM4, M bio, Simba dll
  • Abu : abu dapur, abu sekam dan abu daun bambu
Cara Membuat
  • Siapkan drum/jerigen bersihkan jika kotor
  • Masukkan semua bahan, komposisi bahan sebaiknya cair 30% dan padat 30%
  • Aduk-aduk lalu tutup rapat (karena proses ini menggunakan bakteri anaerob)
  • Tiap 3 hari sekali dibuka dan diaduk-aduk
  • Setelah 1 bulan pupuk organik cair siap digunakan (tanda-tanda yaitu tidak berbau busuk atau menyengat dan warna cairan dan bahan hitam kecoklatan
Cara penggunaan
  • Saring larutan menggunakan kain 
  • Semprotkan ke tanaman dengan konsentrasi 1 gelas 200 ml/tangki semprot
  • Ampasnya bisa dikeringkan dan digunakan sebagai pupuk organik padat

Kamis, 31 Mei 2012

Cara Pembuatan Caplak Roda Legowo 2 : 1


BAHAN DAN ALAT  YANG DIBUTUHKAN
A.  Alat yang dibutuhkan meliputi

  •         Gergaji
  •       Palu
  •       Pahat
  •       Serut
  •       Pisau/Parang
  •       Bor
B.  Bahan Yang dibutuhkan

  •              Papan 2 lembar (2 m x 20 cm x 2 cm)
  •        Besi bundar  150 cm
  •        Bambu bilah panjang 150 cm
  •        Paku secukupnya
  •        Bambu
Keterangan :
Ukuran panjang besi tergantung pada jarak tanam legowo contoh legowo 2 (50 x 25 x 12,5) tidak sama panjangnya dengan legowo 2 (40 x 20 x 10)

CARA PEMBUATAN CAPLAK LEGOWO PRAKTIS
Tahap ke 1
1.     Papan diserut sampai bersih, kemudian papan tersebut dibuatkan roda (lingkaran) sebanyak 5 buah
2.    Roda (lingkaran) yang sudah jadi, ditengahnya dibuatkan lobang sesuai dengan ukuran besi
3.    Ambil kayu  kemudian serut sampai bersih dan dibuatkan gagang (untuk menarik)
4.    Ambil papan kemudian dibikin capit turang dengan ukuran panjang 20 cm lebar 5 cm sebanyak 3 buah di dekat ujung bawah di kasih lubang.
CARA PEMBUATAN CAPLAK LEGOWO PRAKTIS TAHAP KE 2
1.     Roda yang 5 buah dimasukan ke besi diatur dengan jarak tanam legowo sesuai dengan kebutuhan misal legowo 2 dengan jarak tanam 25 cm x 50 cm
2.    Roda yang sudah dimasukan ke besi yang sudah diatur dengan jarak tanam kemudian roda tadi dipasang jari-jari (bambu) yang 5 buah dengan jarak sesuai dengan keinginan misalkan 12,5 cm
3.    Capit hurang yang 3 tadi dipasangkan ke rangka di ujung dan ditengah dan di ujung
4.    Capit hurang yang sudah dipasangkan kerangka tadi dipasangkan dengan besi yang sudah ada roda dan jari-jarinya ujung besi dan capit hurang yang sudah di lubangi kemudian di pasang besi ujung kiri dan kanan kemudian rangka tadi diberi gagang gunanya untuk menarik.

Rabu, 30 Mei 2012

APLIKASI TEKNOLOGI BMF (BUDI MIXED FARMING) PADA BEBERAPA VARIETAS KEDELAI

Kedelai merupakan tanaman multiguna, sehingga kedelai menjadi komoditas penting di Indonesia.     Produksi kedelai di Sulawesi Selatan pada tahun 2009 sebesar 41.279 ton dengan luas areal tanam sekiatr 45000 ha dengan tingkat produktivitas 1,6 ton per ha.
            Salah satu paket tekhnologi untuk meningkatkan kesuburan tanah guna memperoleh hasil yang optimal pada tanaman kedelai adalah tekhnologi BMF yang telah dikembangkan di jawa tengah dengan rata-rata produksi 3 ton per ha.
            Paket teknologi BMF menggunakan varietas grobogan yang berumur pendek dan mengemas precursor hormone sitokinin dalam bentuk pupuk organic BMF biolemi dan BMF Biofert.
            Berdasarkan hal tersebut maka penulis membuat penelitian yang menggunakan RPPT dengan petak utama :penggunaan teknologi BMF dengan perlakuan  (b0 = bio fert plus (6 L ha-) dan b1 (bio fert plus (6 L ha-)dan BMF Biolemi (6 L ha-)), anak petak adalah varietas 3 perlakuan (varietas grobogan, raja basa dan argopuro) dan anak-anak petak adalah penggunaan macam bahan organic (tanpa bahan organic padat, pupuk kandang sapi (5 ton ha-1) dan kompos jerami (5 ton ha-1)
            Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Desa Turucinnae Kecamatan Lamuru yang dilakukan oleh penulis maka diperoleh hasil bahwa ternyata varietas raja basa memberikan hasil yang terbaik pada tinggi tanaman 60 HST (62,710 cm), jumlah polong berisi (47, 15 buah), bobot biji per tanaman (9,41 g) dan berat bij per hektar (1,66 ton per ha) dan interaksi BMF biolemi dan varietas grobogan tanpa menggunakan bahan organic pada menghasilkan laju tumbuh relative tertinggi pada umur 60 – 75 HST (0,04787).





Selasa, 15 Mei 2012

Masa Depan Agroforestry Versynya Lhidot


Terdapat 3 zona utama dalam penggunaan lahan yaitu : hutan alam (natural forest), pertanian intensif (Intensive agriculture) dan multi landscape (agroforestry), dimana agroforestry sebagai zona peralihan antara natural forest dan intensive agriculture.
Menurut pemikirannya LHIDOT prediksi penggunaan lahan 20 tahun ke depan  menggambarkan bahwa pertanian intensive  akan semakin berkurang hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan populasi manusia yang dikuti oleh peningkatan kebutuhan dalam hal ini peningkatan kebutuhan perumahan, kegiatan pertambangan, pembangunan industri, pembangunan pembangkit listrik tenaga air, pembangunan jalan dal lain sebagainya.  Penurunan luas lahan pertanian intensive ini akan terjadi jika  pemerintah sebagai stake holder penentu kebijakan tidak membuat kebikajan khusus dalam hal alif fungsi lahan lahan subur yang digunakan sebagai  lahan pertanian intensive
Lahan pertanian intensive akan berkurang dalam hal jumlahnya namun dari segi produksi kemungkinan 20 tahun akan meningkat hal ini disebabkan oleh tuntutan kebutuhan pangan yang semakin meningkat, sehingga lahan pertanian intensive yang semakin menyempit akan di olah sedemikian rupa agar memperoleh hasil yang maksimal.  Kemungkinan besar 20 tahun yang akan datang akan banyak tekhnologi budidaya yang dikembangkan sehingga lahan yang semakin sempit akan tetap memperoleh hasil yang maksimal namun tetap berkelanjutan sesuai konsep yang gaungkan pemerintah saat ini yaitu konsep pembangunan yang berkelanjutan.
Dan dengan menurunnya lahan pertanian bisa saja di beberapa tempat akan muncul teknik pertanian dengan cara vertikal dengan menggunakan semacam gedung-gedung layaknya gedung bertingkat.
Penggunaan lahan untuk agroforestry saya gambarkan akan meluas 20 tahun ke depan karena dalam hal ini saya kaitkan dengan kebutuhan manusia akan pangan dan penghasilan yang layak semakin meningkat. Sehingga agroforestry merupakan salah satu solusi karena pada konsep agroforestry dilakukan perpaduan perpaduan tanaman semusim, ternak, ikan dan tanaman kehutanan.  Dan konsep agroforestry akan berkembang karena konsep ini juga merupakan solusi dalam mengatasi permasalahan keterbatasan sumber daya lahan utntuk kegiatan pertanian.
Meningkatnya luas lahan agroforestry juga disebabkan karena adanya dukungan dari pemerintah yang menganggap bahwa agroforestry merupakan salah satu solusi bagi permasalahan sumber daya lahan serta juga dapat mengatasi masalah erosi dan mengurangi pengaruh dari pemanasan global.  Sehingga pada akhirnya para peneliti dibidang pertanian juga kemungkinan akan mengembangkan tehnologi – teknologi  dibidang pertanian yang bisa diterapkan pada kegiatan agroforestry sehinggan diperoleh produksi yang optimal.  Misalnya kemungkinan besar akan ditemukan varietas varietas tanaman padi  dan jagung yang toleran terhadap naungan sehingga padi dan jagung dapat dibudidayakan diantara tanaman pepohonan dengan hasil yang optimal.
Peningkatan luas areal agroforestry akan berimbas pada perambahan natural forest sehinggan luas penggunaan lahan natural forest akan berkurang.  Berkurangnya natural forest disebabkan karena kebutuhan akan kayu dan lahan semakin meningkat.  Sehingga masyarakat – masyarakat  di daerah sekitar kawasan natural forest akan merubah sedikit demi sedikit kawasan hutan tersebut menjadi kawasan agroforestri, karena kebutuhan mereka tidak seimbang dengan ketersediaan lahan.  Selain itu pembagunan jalan pada areal agroforestry akan mempermudah akses masyarakat untuk memasuki kawasan natural forest sehingga memudahkan mereka untuk menjadikan natural forest menjadi kawasan agroforestry.
\\

Rabu, 02 Mei 2012

Teknologi Caplak Roda Legowo 2 :1


System tanam legowo 2 : 1 merupakan inovasi teknologi jarak tanam padi yang dikembangkan dari sistem tanam tegel. Istilah legowo yang diambil dari Bahasa Jawa, yaitu kata lego yang berarti luas dowo yang berarti memanjang. Pada prinsipnya sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi dengan cara mengatur jarak tanam. Selain itu sistem tanam tersebut juga memanipulasi lokasi tanaman sehingga seolah-olah tanaman padi dibuat menjadi taping (tanaman pinggir) lebih banyak. Seperti kita ketahui tanaman padi yang berada dipinggir akan menghasilkan produksi lebih tinggi dan kualitas gabah yang lebih baik hal ini disebabkan karena tanaman tepi akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak.

Salah satu kendala dalam system tanam legowo adalah banyaknya tenaga kerja yang diperlukan dalam system tanam ini karena selain untuk tenaga penanaman juga diperlukan tenaga khusus yang sudah berpengalaman untuk membuat agar jarak baris legowo tepat sehingga terkadang petani enggan menerapkan teknik tanam legowo 2 :1 karena jika bukan petani yang berpengalaman terkadang jumlah populasi berkurang
Salah satu teknologi yang bias digunakan untuk mempermudah penanaman system tanam legowo maka alat caplak yang merupakan salah satu alat pertanian tradisional yang berfungsi untuk membuat garis pola jarak tanam padi bisa digunakan. Pada pertanaman dengan sistem jajar legowo, penggunaan Caplak sangat dibutuhkan untuk pembuatan garis pola tanam.
Caplak Roda  digunakan untuk membentuk garis pola jarak tanam potongan vertikal dan horizontal dilakukan dengan sekali tarik sedangkan pada Caplak Biasa dilakukan penarikan caplak dua kali yaitu secara vertical dan horizontal. Pembuatan garis pola jarak tanam menggunakan caplak roda pun menjadi dua kali lebih cepat dibandingkan dengan caplak biasa.
Biaya yang dibutuhkan untuk membuat garis pola jarak tanam  pun menjadi setengahnya. Dengan biaya yang lebih rendah ini, maka biaya tanam padi menjadi lebih murah sehingga petani mudah menerapkan system tanam legowo 2:1.
Berdasarkan hal tersebut maka kami bekerjasama dengan petani untuk membuat caplak roda legowo 2 : 1 dengan harapan bias membantu petani di kecamatan lamuru untuk bias menerapkan system tanam legowo dengan mudah sehingga produktivitas padi mereka bisa meningkat.
              






http://www.totallyfreecursors.com

Rabu, 14 Maret 2012

Acara Tudang Sipulung


Acara tudang sipulung "perdana" di kelompok tani lompo jaya Kelurahan lalebata kecamatan lamuru kabupaten bone. kegiatan tudang sipulung merupakan kegiatan yang dilakukan oleh kelompok tani menjelang kegiatan persiapan lahan kegiatan budidaya tanaman padi. pada kesempatan ini selain menyampaikan informasi mengenai prakiraan cuaca menurut BMG"badan metrologi dan geofisika" dan pannarang"orang yang mampu meprakirakan cuaca berdasarkan kearifan lokal setemmpat" juga disampaikan tentang bagaimana cara penggunaan yang tepat untuk pupuk organik cair yang diberikan oleh pemerintah sebagai bantuan lansung kepada petani.

Kamis, 23 Februari 2012

Ketenagaan penyuluh BPK Kecamatan Lamuru



Nama : Supia Lida, SP
Jabatan : Kepala BPK  Kec. Lamuru
Nip : 1965112319871102020
Pangkat :
Pendidikan : S1 
Wilayah Binaan : Desa Poleonro

Nama : Ferdinand Kresch Reppa, SP
Jabatan : 
Nip :
Pangkat :
Pendidikan : S1 
Wilayah Binaan : Desa Barakkae

Nama : Masdalia, SP.MP
Jabatan : THL TB PP
Pendidikan : S2 Pertanian
Wilayah Binaan : Desa Sengeng Palie dan Kelurahan Lalebata

Nama : Junianti, Amd.P
Jabatan : THL TB PP
Pendidikan : D3
Wilayah Binaan : Desa Mamminasae dan Mattampabulu

Nama : Jamal Amir, SP
Jabatan : THL TB PP
Pendidikan : S1 
Wilayah Binaan : Desa Seberang


Nama : Sulaiman
Jabatan : THL TB PP

Pendidikan : SPMA
Wilayah Binaan : Desa Turucinnae



Rabu, 22 Februari 2012

Selayang Pandang BPK Kec. Lamuru


Balai penyuluhan Kecamatan (BPK) Kecamatan Lamuru terletak di Desa Poleonro Kecamatan Lamuru Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan. Balai Penyuluhan pertanian di kecamatan lamuru memiliki fungsi sebagai lembaga yang mewadahi penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan yang berada di Kecamatan Lamuru Kabupaten Bone, hal ini sejalan dengan amanah yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006, tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang menyatakan bahwa kelembagaan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan terdiri dari : 
1. Kelembagaan Penyuluhan Pemerintah yang terdiri atas : 
 - Tingkat pusat berbentuk badan 
-  Tingkat provinsi berbentuk Badan Koordinasi Penyuluhan 
- Tingkat kabupaten/kota berbentuk badan pelaksana penyuluhan; dan - Tingkat kecamatan   berbentuk balai penyuluhan 
2. Kelembagaan Penyuluhan Swasta merupakan kelembagaan yang dibentuk oleh pelaku usaha dengan memperhatikan kepentingan pelaku utama serta pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan setempat. 
3. kelembagaan penyuluhan swadaya merupakan kelembagaan yang dibentuk berdasarkan kesepakatan antara pelaku utama dan pelaku usaha. 
4.  Kelembagaan penyuluhan pada tingkat desa/ ke-lurahan berbentuk pos penyuluhan desa/kelurahan yang bersifat nonstruktural. kelembagaan penyuluhan pemerintah di Kabupaten Bone Berbentuk 
Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K), yang dibentuk berdasarkan : 
1. Ketentuan pasal 8 ayat (2) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan dan pasal 45 Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, perlu dibentuk kelembagaan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan tingkat Kabupaten sebagai lembaga lain bagian dari perangkat Daerah Kabupaten Bone. 
2. Sesuai ketentuan tersebut diatas, ditetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Bone Nomor 5 Tahun 2010 tentang Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Bone.
3. Sebagai lembaga/perangkat Daerah yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan serta Satuan Administrasi Pangkal Tenaga Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan ditingkat Kabupaten Bone. 
Kelembagaan Penyuluhan Tingkat Kecamatan
Kelembagaan Penyuluhan Pemerintah tingkat Kecamatan di Kabupaten Bone berbentuk Balai Penyuluhan Kecamatan (BPK). 
1. Kedudukan, tugas dan fungsi
- Kedudukan Balai Penyuluhan Kecamatan (BPK) adalah kelembagaan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan ditingkat Kecamatan yang merupakan lembaga non struktural yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K). 
- Tugas dan Fungsi Balai Penyuluhan Kecamatan (BPK) mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan Daerah dibidang penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan ditingkat Kecamatan. Didalam melaksanakan tugas Balai Penyuluhan Kecamatan (BPK) Kecamatan menyelenggarakan fungsi : 
a. Penyusunan programa penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan ditingkat Kecamatan yang sejalan dengan programa penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan Kabupaten. 
b. Melaksanakan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan berdasarkan program penyuluhan. c. Menyediakan dan menyebarkan informasi teknologi, sarana produksi, pembiayaan dan pasar. d. Memfasilitas pengembangan kelembagaan dan kemitraan pelaku utama dan pelaku usaha. 
c. Melaksanakan peningkatan kapasitas PNS, Penyuluh Swadaya dan Penyuluh Swasta melalui proses pembelajaran secara berkelanjutan. 
d. Melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan metode penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan bagi pelaku utama dan pelaku usaha secara berkelanjutan. 
e. Melaksanakan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan programa penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan. 
2. Susunan organisasi, Balai Penyuluhan Kecamatan (BPK) terdiri dari : 
a. Kepala Balai 
b. Pelaksanaan Urusan Tata Usaha 
c. Pelaksanaan Urusan Supervisi dan Monev 
d. Staf Pengelola Administrasi Balai 
e. Staf Pengelola Kebun Balai 
f. Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan ditingkat Desa/Wilayah Binaan. 
Berdasarkan Tugas dan fungsi tersebut di atas maka BPK kecamatan Lamuru memiliki Visi  dan Misi yaitu : 
VISI : Terwujudnya Sumberdaya Manusia Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang Profesional, Kreatif, Inovatif dan Berwawasan Lingkungan.
MISI : 
 - Meningkatkan mutu sumberdaya manusia pertanian, perikanan dan kehutanan 
- Meningkatkan kualitas dan kuantitas penyuluhan 
- Menumbuhkembangkan kelembagaan pertanian, perikanan dan kehutanan 
- Meningkatkan jejaring kerjasama, kemitraan yang sinergis antara pelaku utama dan pelaku usaha pertanian, perikanan dan kehutanan

Senin, 13 Februari 2012

MONOGRAFI KECAMATAN LAMURU KABUPATEN BONE




Kecamatan Lamuru  secara administratif terletak di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan yang berjarak 62,5 & 64,5 Km dari Ibukota Kabupaten. 
Adapun batas-batas wilayahnya sebagai berikut :
·            Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Soppeng
·           Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Lappariaja
·           Sebelah Timur Berbatasan dengan Kecamatan Bengo
·           Sebelah Barat Berbatasan dengan Kecamatan Tellu Limpoe
          Luas Wilayah Kecamatan Lamuru adalah 208,00 Km2 yang terdiri dari 12 Desa. Keadaan Topografi wilayah binaan berbukit dengan ketinggian tempat 220 m.dpl.
1.             Penduduk
Kecamatan Lamuru memiliki jumlah penduduk 25.107 jiwa dan  6.535 rumah tangga. Dengan 11.893 Laki-laki dan 13.214 Perempuan.
Tabel 1. Data Kependudukan Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone.                                                      
1.        Tanah
Tanah merupakan lapisan kulit bumi paling atas.  Tanah terbentuk secara alami dari hasil pelapukan dan pengendapan batuan & bahan bahan organik.  Kelurahan Lalebata dan Desa Sengeng Palie memiliki jenis tanah alluvial dengan Ph 6,41  Jenis tanah alluvial/tanah endapan  merupakan tanah yag terbentuk dari lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian
Kecamatan Lamuru memiliki potensi yang terdiri atas lahan basah dan lahan kering.  Dimana lahan basah digunakan sebagai persawahan (sawah irigasi dan tadah hujan) sementara lahan kering digunakan sebagai tegalan, pekarangan, perkebunan, padang rumput dan hutan rakyat
Tabel 2. Keadaan Potensi  Lahan Kering   Kec. Lamuru Kab. Bone  
Tabel 3. Keadaan Potensi  Lahan Sawah Kec. Lamuru Kab. Bone  
Iklim yang ada di kecamatan lamuru  tergolong tipe iklim A1 (menurut Oldemen) dengan Curah hujan maksimum 3.120 mm per tahun dan curah hujan minimum adalah 867 mm per tahun.  Jumlah hari hujan yang terbanyak 260 hari per tahun dengan suhu maksimum 300C. Pada lokasi binaan bulan basah terjadi pada bulan january – maret, bulan lembab april sampai agustus dan bulan kering september sampai desember.
2. Potensi Agroekosistem